Sederhana

                                                   


Pagi itu, di Gontor Putri Kampus 3, dengan senyum yang terukir manis, kukayuh sepedaku menuju Al-Azhar. Entah mengapa, bel pelajaran jam kedua begitu kunanti, kusempatkan untuk bertanya pada 2 orang santri yang sedang menyap lantai 3..

"Ukhti, jam keberapa sekarang?"

"Jam pertama Ustadzah,"

"Oh, belum bel ya"

"Iya, belum" Lihat? betapa aku rindu ruangan di sudut lantai 3 al-Azhar itu beserta penghuninya, siapa lagi kalau bukan 2K.

Sekelompok santri yang kadang membuat kepala Mudarrisah ingin pecah, terkadang juga membuat tekanan darah menjadi naik, dan nafsu makan menjadi hilang. Lho? emang jatuh cinta?

Sesaat kemudian bel dipukul, kulangkahkan kaki dengan semangat yang menggebu. setelah menyapa mereka..

"Ahlan, wa sahlan ya Ustadzah"

"Ahlan bikunna--"

"Ustadzah kita dijemur sekarang?"

"Hah? sekarang?" seketika aku terperangah. Maklum, Gontor mempunyai tradisi berjemur dan senam sebagai upaya menanggulangi COVID-19. Oleh sebab itulah KMI membuat jadwal berjemur pada jam kedua, dan akulah gurunya saat itu.

"Ya, udah. Sekarang baris di pintu, yang mau keluar harus nerima satu penggaris dari Ustadzah"

"Yey.." jawab mereka serempak. sekali lagi, senyum paling manis sedunia terukir dibibirku. bagaimana tidak, hanya dengan sebatang penggaris bergambar Princess, seluruh kejenuhan tentang berjemur menguap, terganti oleh kebahagiaan yang menyelinap diantara riuhnya pelajaran yang harus dihafal.

detik itu aku belajar satu hal, bahwa bahagia itu SEDERHANA.

Komentar