Laut Biru

See the source image

Jam menunjukkan pukul 06.45 dan Elisa,  si pejuang hissoh ula ini baru saja membuka mata dari tidurnya, luar biasa bukan? Bola matanya seketika berputar menuju jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Seketika itu pula jantung Elisa seperti lepas dari rongga dadanya. Ia memaksa dirinya untuk bangkit dari tempat tidur, terhuyung menuju kamar mandi untuk menjalankan ritual sakral, yang rutin dilakukan saat genting seperti ini, apalagi kalau bukan gosok gigi dan cuci muka.

Menit berlalu tanpa jejak, tak seperti bel kedua yang  membekas dalam benak. Elisa sudah berdiri di depan kantor KMI, bersiap mendistribusikan sedikit ilmu yang ia miliki. Buru-buru ia meraih buku absen, dan kembali menuju sepedanya dengan senyum yang terukir di bibir. Pagi ini tak terlalu buruk, batinnya. Ia berhasil mempersiapkan diri dan tiba tepat pada waktunya. Kecuali i’dad yang belum punya legalitas! Elisa melupakan hal yang paling penting dari tradisi mengajar di pondok ini.

“Aduh, makanya jangan sombong Elisa..” keluhnya pada diri sendiri.

Ia berusaha mencari celah untuk mendapat legalitas. Namun melihat antrian yang mengular, ia menyerah.

“Teng.. teng..” bel itu kembali dipukul untuk ketiga kalinya pagi ini.

Elisa merasa ada petir yang menyambar dirinya di pagi yang secerah ini. Dengan langkah gontai ia mengayuh sepedanya dan berjalan menuju kelas. Ini baru hari Sabtu, tapi fikirannya sudah sampai pada hari Kamis, hari ketika seluruh kesalahan guru diadili.

***

“Ah.. lan.. wa.. sah.. lan.. ya.. Ustadzah..” sapa segenap santri penghuni Al-Azhar 312. Bulu kuduk Elisa mendadak tegang mendengar sapaan itu yang nyaris tanpa daya. Kalimat yang kadang dirindunya itu, kini terdengar sumbang. Ada nada pertikaian yang terdengar diantaranya.

“Ana..!” ujar Halila.

“Ana..!” Salma tak mau kalah.

“Ana udah naruh buku disini”

“Tapi ana datang duluan”

“Ya terus?!”

“Heh, heh, heh, limadza?

“Halila sama Salma rebutan maq’ad Ustadzah”

“Udah, sekarang Cahya duduk disini.”

“Lho kok jadi Cahya, Ustadzah?”

“Ya biar adil, jadi yang duduk disini, bukan Halila atau Salma. Kalian cari tempat duduk sendiri, paham?” Elisa mencoba melerai, sungguh ini sesuatu yang tak penting menurutnya. Ia berusaha mengendalikan diri, membangun hari dan emosi yang sebenarnya telah hancur.

Na’am, nabda’ darsana..”

Hancur lagi. Mood yang dibangunnya kini hancur kembali setelah bertahan tak lebih dari 5 detik. Matanya tak segaja menangkap Merisa, ia sedang asyik menjahit kerudung teman sebangkunya sambil berdiri. Kerudung pelanggaran memang terkadang robek karena yang memakai tak memiliki rasa kepemilikan. Mungkin Merisa sedang mencoba untuk empati pada Nova yang sedang mengenakan kerudung pelanggaran berwarna orange dan ungu. Namun ini sungguh bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu.

“Merisa, kalau mau jahit jangan ketika pelajaran Matematika ya?”

“Hehe, iya Ustadzah”  Ia tersenyum, entah senyum macam apa. Namun nyatanya berhasil membuat kemarahan Elisa lenyap.

“Ustadzah!” baru selasai satu masalah, seseorang kembali mengejutkannya.

“Apalagi ukhti..?”

“Ada ustadzah di pintu” ia mengarahkan lima jarinya ke arah pintu.

            Seketika kulempar pandang menuju daun pintu, ada sosok ustadzah yang membawa sebuah buku berbentuk landscape. Seberapa cantik ustadzah Sherine, Elisa tetap menafsirkannya sebagai malaikat maut, karena i’dad-nya yang nihil legalitas. Mampus!

***

 

Elisa merasa hari ini benar-benar sempurna kacaunya. Hari terburuk selama ia menjadi guru. Ia mengayuh sepedanya menuju wartel, setelah menyelesaikan hissoh ula-nya. Mengingat seluruh kejadian hari ini untuk dilaporkan pada teman dekatnya yang juga se-SMP dengannya dahulu, Fara.

“Assalamualaikum”

“Wa’alaikumsalam” jawab seseorang diseberang sana.

“Fara? Ini aku, Elisa” Elisa terduduk sambil memegang sebuah catatan kecil, nomor telpon.

Elisa berharap bahwa orang tersebut memang Fara, teman sebangkunya ketika kelas 6. Setahun ia mengabdi di pondok, menjadi guru seperti Elisa, namun harus terhenti karena keinginan orang tuanya.

“Elisa..” sahutnya. Elisa menangkap ada nada tak biasa dari suaranya.

“Ini Fara kan? Kenapa suaranya?”

“Hwa... hwa..”

“Lho, lho, kenapa nangis” mendadak Elisa menjadi panik di dalam wartel.

“Kangen pondok..”

“Hah? Seriusan? Aku aja pingin kayak kamu”

“Aku kangen Nisa..”

“Nisa..? bintuki yang suka ngompol itu?”

“Kangen Dela juga”

“Dela yang anti botakin gara-gara kutuan?”

“Bukan, itu Sinta, kangen juga.. Dela itu yang punya jarban dikaki”

            Elisa sungguh tak faham dengan sahabatnya itu. Mengapa ia merindukan sesuatu yang justru membuat Elisa tak ingin bertahan disini?. Baru saja ia ingin mendramatisir ceritanya hari ini. Tentang Halila dan Salman yang rebutan bangku, sampai Merisa yang menjahit kerudung sambil berdiri pada saat jam pelajaran. Juga tentang i’dad yang nihil legalitas.

“Kangen bikin i’dad juga.. Hwa..”

            Gila! temannya ini benar-benar gila. Fara merindukan segala sesuatu yang membuat pagi Elisa nampak seperti mimpi buruk. Ia rindu dengan tholibah dan segenap tingkahnya. Ia rindu dengan i’dad yang memang tak ada di belahan bumi lainnya. Tapi mengapa?

            Elisa kembali ke kamar dengan kepala yang dirundung rasa penasaran. Mengapa ia merasa terganggu dengan semua rutinitas ini? Bukankah ia tak akan menemukannya kembali selain di kampung damai ini? Bukankah ia tak akan menemukannya kembali setelah 4 tahun kemudian? Bukankah penyesalan dan rindu akan datang seperti ia menghampiri Fara? Oh, Elisa, kemana perginya rasa syukurmu?

            Elisa berhenti di depan kamarnya. Bel istirahat sudah berdengung di telinganya. Ia masih enggan memasuki kamar, ia memilih untuk duduk di bangku depan kamar.

“Assalamualaikum ustadzah..”

Apalagi ini?” batinnya

“Wa’alaikumsalam, kenapa ukhti?”

“Nova sakit ustadzah, sekarang di BKSM”

“Sakit? Sakit apa?”

“Mag ustadzah..”

            Entah apa yang membuat hatinya tergerak, dan apa yang membuat kakinya mengayuh sepedanya. Kali ini ia hanya memikirkan Nova, siswinya yang luar biasa. Sebelum ia mencapai BKSM, Elisa menyempatkan diri untuk membeli beberapa bungkus roti dan abon. Ia yakin Nova enggan pergi ke dapur untuk makan karena rasa malunya memakai kerudung pelanggaran.

“Assalamualaikum” Elisa mengucap salam dengan nada ragu, takut kalau-kalau ia tak menemukan sosok yang dicarinya, Nova.

“Wa’alaikumsalam” jawab beberapa tholibah yang sedang sakit disana. Elisa, kamu hanya perlu mencari kerudung berwarna orange dan ungu, dan kamu akan menemukan Nova disana, ujarnya menasehati diri sendiri.

“Nova,” ia menepuk seorang tholibah yang berjalan membelakanginya.

“Ana Eva ustadzah, bukan Nova” jawabnya lugu. Sebenarnya ada berapa tholibah yang sedang memakai kerudung pelanggaran bahasa itu?

“Ustadzah Elisa” suara kecil yang kukenal itu terdengar dari balik punggung.

“Nova?”

“Ustadzah..” ia menatap Elisa dengan mata penuh cerita, beberapa bulir bening terjatuh dari sana. Elisa segera membawanya untuk duduk di bangku terdekat.

“Udah makan?” tanya Elisa. Nova menggeleng.

“Kenapa?”

“Pedes ustadzah”

“Bener, karena pedes?” Nova menggelengkan kepala, sekali lagi.

“Gara-gara ini?” Elisa memegang ujung kerudung siswi kelas 2 KMI itu. Kali inipun Nova mengangguk, bulir bening itu semakin berjatuhan membasahi kerudungnya. Elisa segera meraihnya dan mendekap Nova.

“Nova, ini pelajaran yang sangat besar buat anti, bahwa sebuah masalah itu tak seharusnya dihindari, tetapi dihadapi. karena dengan menghadapinya anti menjadi semakin dewasa. Kalau anti masih nggak mau makan karena malu, anti juga jahat sama lambung anti, gak beryukur sama lambung sehat yang sudah diberikan Allah. Coba, berapa orang yang sudah sakit mag akut?”

“Banyak ustadzah”

            Elisa menyodorkan roti dan abon yang dibelinya sebelum mencapai BKSM. Nova terlihat lahap memakan roti itu.

Kata-kata Elisa pada Nova sebenarnya menohok dirinya sendiri, betapa ia tak beryukur bila masih membenci anak-anak, bila masih malas membuat i’dad. Berapa guru diluar sana yang merindukan indahnya mengabdi? Seperti Fara yang merindukan pondok dan berbagai rutinitasnya.

Nova menyadarkannya bahwa anak-anak adalah mutiara kehidupan yang langka. Ia berada disini dengan rintangan yang berat yang harus dilalui, sebagaimana mutiara yang sukar digapai dalam luasnya laut biru. Ia bukanlah virus yang harus dihindari tetapi mutiara yang harus dijaga dan dilindungi. Karena pada dasarnya ia baru mulai melangkah untuk mengenal dunia melalui masalah demi masalah, sebagaimana pelaut yang mengenal lautnya melalui badai demi badai.


Komentar