Filosofi Debet dan Kredit



Bisa dibilang, tiada hari tanpa menghitung debet dan kredit. Setiap hari ada transaksi, maka setiap hari pula ada penghitungan uang masuk (debet) dan uang keluar (kredit).
Mari kita asumsikan debet sebagai amal ibadah, dan kredit sebagai maksiat, dalam sehari, kita selalu melakukan transaksi (bermu'amalah). Mu'amalah sendiri dibagi menjadi dua. Mu'amalah dengan manusia, dan mu'amalah dengan Tuhan.
Saat bermu'amalah dengan Tuhan, kita harus pandai menabung, artinya, kita harus memperbanyak amal ibadah kita, karna itulah yang akan menjadi debate atau pemasukan pahala. Jika sudah menunaikan yang wajib, alangkah baiknya bila ditambah dengan yang sunnah.
Sebaliknya, bermu'amalah dengan manusia membutuhkan kehati-hatian yang tinggi,. Biasanya, mu'amalah ini berujung kredit, kita mungkin dan sering tidak sengaja serta tidak menyadari bahwa lisan ini pernah menyakiti hati orang, atau membuat janji yang terkadang tak sanggup ditepati, dan segala jenis mu'amalah tidak baik.
Salah sedikit, bisa saja menaikkan kredit kita. Apabla kredt lebih besar daripada debet, bisa dikatakan saldo menjadi minus. Ini tentu musibah untuk kita, karna total pahala menjadi berkurangam inilah yang disebut perbuatan jahat memakan pahala.
Namun, mu'amalah dengan manusia juag dapat menjadi debet yang menjanjikan. Pasalnya, begitu banyak saudara yang perlu dibantu, disayang, dan dimuliakan. Apabila kita dapat memanfaatkan momentum ini, betapa banyak debet pahala yang masuk dari 2 sektor pahala ini.
Mungkin kita hebat dalam menghitung uang, namunkita sungguh nihil dalam menghitung amal ibadah. Kita tak pernah sadar apabila amal ibadah kita surplus atau deficit. Maka, mari belajar menghitung debet dan kredit amal ibadah kita guys…

Komentar