Boleh dibilang, manusia itu harus masuk padepokan bersyukur. Belajar
bertahan dengan kuda-kuda kesulitan, keterbatasan, dan kesengsaraan. Juga
belajar untuk menyerang keluhan, emosi, bosan, terutama nafsu.
Menjadi mahasiswi guru nyatanya tak semudah memakai sabuk putih.
Apalagi guru tahun pertama. Mata harus jeli membaca jurus-jurus senior. Hati
harus peka dengan keadaan kamar. Salah sedikit dapat bonus satu pukulan. Lengah
sedikit akan termakan serangan keadaan.
Belum lagi, ratusan anak yang ilmunya ada pada tangan kita. Ilmu
yang sengaja ditabungkan Allah pada kita yang sedikit beruntung. Untuk
ditransfer dan ditarik secara cuma-cuma oleh murid kita. Dapat dibayangkan,
bila kita si kartu ilmu sedang error, murid-murid akan terbengkalai dan miskin
ilmu tentunya.
Semua fungsi yang ada pada diri ini, seperti batu bertumpuk yang
sangat berat di atas pundak yang lemah. Butuh berbagai do’a dan dukungan untuk
memikulnya sampai garis finish. Kalau tidak, semua yang harusnya menjadi debit
pahala, justru keluar menjadi kredit dosa. Na’udzubillah.
Maka dari itu, syukur menjadi suatu jaminan untuk menikmati
rahmat-Nya. Banyak teman beda pengabdian mengatakan bahwa, “kartu ilmu” ini
harus bersyukur. Punya banyak kegiatan bermanfaat dengan debit pahala mengalir,
tidak seperti mereka. Padahal hati kecil berbisik bahwa, mereka harus
bersyukur, karna punya waktu lebih untuk memaksimalkan potensi diri.
Inilah kita, anak manusia, murid padepokan bersyukur. Semoga dengan
berbagai cobaan dan ujian yang hadir melalui kekosongan dan kesibukan diri.
Kita mampu naik tingkat dan memiliki sabuk warna syukur. Mari saling
mendo’akan, para perantau yang sedang menaiki bahtera perjuangan, di atas
samudra pengabdian.
Komentar
Posting Komentar